"Woy...jalan yuk!" Begitu tulisan yang muncul di layar BBM
Udin. Pesan BBM dari Kasrun. BBM itu membuyarkan lamunannya. Ya, pasca
kejadian dibatalkan pernikahannya, Udin jadi lebih sering melamun.
Sebenarnya Udin mencoba bersikap biasa saja pasca batalnya pernikahan
dengan Hani sebulan lalu. Tapi nampaknya itu bukan hal yang mudah.
Dadanya selalu terasa sesak setiap kali mengingat batalnya pernikahannya
itu.
Andai bisa membalik waktu, rasanya ia ingin sekali menarik semua
undangan yang telah disebar. Entah kenapa sewaktu ingin menyebar
undangan, ia ingin dilambat-lambatkan saja. Tapi kata keluarga, "Harus
segera disebar. Sebulan sebelum hari H sudah pas kok untuk menyebar
undangan. Biar orang-orang langsung mengagendakan untuk hadir di nikahan
kamu!"
Ingin sekali dia berteriak, "Apa saya bilang! Nanti saja menyebar undangannya!"
Kalau ingin hitung-hitungan biaya, sudah lumayan juga biaya yang
keluar. Biaya untuk cetak undangan, biaya untuk bikin baju pengantin,
pesan makanan, sewa gedung, dan lain sebagainya. Tapi tentu bukan itu
masalah utamanya. Udin merasa, batalnya sebuah pernikahan itu adalah
aib. Aib dirinya, juga tentu aib keluarga.
Ia marah sekali pada mantan calon istrinya itu. Kalau memang tak
ingin menikah, kenapa mengiyakan? Kalau memang masih ada orang lain yang
diharapkan, kenapa mengiyakan? Kalau memang belum bisa move on, kenapa
harus mengiyakan? Toh tak ada yang memaksa untuk menikah! Apa dia tak
bisa berpikir masalah yang ditimbulkannya? Mungkin tak ada masalah
dengan diri & keluarganya. Tapi apa dia tak berpikir bahwa
tindakannya itu menyakiti orang lain? Begitu yang ada di pikiran Udin.
***
Sore itu Udin & Kasrun bertemu di tempat favorit mereka. Cafe
Capung. Pasukan hujan masih belum habis menyerang bumi dengan basahnya.
Masih ada milyaran tetes yang setia menghempaskan dirinya ke tanah. Udin
memesan segelas Hot Chocolate dan seporsi tempe mendoan kesukaannya. Kasrun seperti biasa memesan Hot Lemon tea.
" Aku cengeng ya Srun? "
" kenapa? " Tanya Kasrun
" Baru ditinggal calon istri, sudah kayak dunia mau kiamat.." jawab Udin sambil nyengir.
" nah, itu nyadar..." Kasrun nyengir juga
" Aku bingung harus gimana..! Aku udah coba bersikap biasa aja.
Tapi setiap kali ingat kejadian itu, dadaku seperti ingin meledak."
" Aku boleh cerita ya Din.."
" Iya, silakan..."
" Dulu saat tinggal di Jogja, istriku punya seorang teman.
Namanya sebut saja Intan. Intan mengenal seorang pria dari kakaknya.
Anggap namanya Riyan. Singkat cerita, mereka pun merencanakan menikah.
Setelah lamaran, tanggal pernikahan pun ditetapkan. Semua disiapkan.
Persis seperti yang telah kau lakukan. Beberapa hari sebelum hari H, ada
kejadian aneh..."
"...Calon suaminya tak bisa dihubungi. Semua nomor handphone yang
dimiliki calon suaminya tak bisa dihubungi. Intan mendatangi rumah
kontrakan calon suaminya. Dia kaget bukan kepalang saat yang punya
kontrakan bilang bahwa Riyan sudah pergi beberapa hari lalu. Intan tak
tahu mau menghubungi siapa-siapa lagi. Saat lamaran, dia memang bertemu
calon mertuanya. Tapi Intan tak punya nomor kontaknya. Mau mendatangi
rumahnya di Medan, dia tak punya alamatnya."
" Intan panik! Hanya beberapa hari mau menikah, calon suaminya
menghilang seperti ditelan segitiga bermuda. Intan mencoba berpikir
positif dan menenangkan dirinya. Tapi tak bisa. Jantungnya tak mau
berdetak pelan. Sesak di dadanya tak sejam pun mau menghilang. Ia tak
selera makan & tak bisa tidur. H-1 tanggal pernikahannya, ia
mendapat telepon dari calon ibu mertuanya. Calon mertuanya
mengabarkan bahwa Riyan sekarang sudah berada di Amerika. Ia memutuskan
membatalkan pernikahan. Entah apa sebabnya. Riyan tak mau sebutkan
alasan ke orangtuanya. Ibunya Riyan berulang kali memohon maaf."
" Din...kau bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Kasrun
" Intan bunuh diri? Persis seperti kisah di sinetron atau novel-novel.." jawab Udin. Kasrun menggeleng.
" Setelah terima telepon, Intan jatuh pingsan, koma dan akhirnya meninggal.." jawab Udin lagi.
" Ah, kau terlalu sering nonton sinetron Din!
" Jadi apa yang terjadi pada Intan? " tanya Udin mulai penasaran
" Setelah dapat telpon itu, dengan kepala tegak, sambil
tersenyum dia ceritakan kepada orangtuanya. Ibunya Intan menangis
terisak. Menangisi keadaan anak gadisnya. Tapi justru Intan yang
menenangkan ibunya. Dia lalu mengirim pesan singkat ke seluruh teman,
saudara dan semua orang yang sudah diundang ke pernikahannya,
mengabarkan bahwa pernikahannya batal."
" Tak sedikit teman-teman yang penasaran langsung menelponnya.
Intan menjawab dengan santai. Istriku salah satu temannya yang amat
sangat penasaran. Apa yang terjadi sebenarnya? Istriku datang ke rumah
Intan. Bertanya langsung padanya. Dia menceritakan kronologisnya dengan
sangat detil. Saat dia bercerita, istriku mendengarkan baik-baik getaran
suaranya. Tapi tak ada sedikitpun getaran tanda sedih, kesal, marah
atau sejenisnya. Yang pasti tak ada air mata Intan yang jatuh
setetespun. Wanita ini ajaib."
" Ini cuma cerita karanganmu saja kan Srun..supaya aku tak marah dan sedih lagi? "
" Ah, kau kan tau, nilai bahasa Indonesiaku kalau menulis
karangan tak pernah bagus. Mana bisa aku mengarang cerita. Ini nyata.
Intan memang teman istriku sewaktu di kampus."
" Kok bisa ya Intan seperti itu? Padahal yang dialaminya lebih mengerikan dari yang kualami.." ujar Udin
" Entah apa sebab dia bisa sekuat itu. Waktu ditanya istriku, ada satu ucapannya yang sangat diingat istriku.."
" Dia bilang, " Hah! Aku harus menangis? untuk apa? Aku justru
bersyukur tak jadi menikah dengannya. Kalau dia meninggalkanku setelah
kami menikah, akan lebih runyam lagi urusannya. Jadi aku sangat
bersyukur dia meninggalkanku sekarang. Lagipula, ini adalah takdirku.
Sudah ada di Lauhul Mahfuzh. Big Book of Allah. Nama dia dan namaku
sudah ada disana. Kejadian ini sudah tertulis lengkap disana. Jodohku
berarti bukan dia. Aku tinggal melanjutkan kehidupan, dan bertemu dengan
takdir kehidupan lainnya. Jodohku pasti ada. Entah siapa. Pasti
dihadirkanNYA!" " Jelas Kasrun
Agustus 2014
Kehidupan berlanjut. Udin & Kasrun menjalankan kehidupannya
masing-masing. Udin sudah kembali seperti semula. Kembali bersemangat
menata hari-harinya. Dia menyadari, adalah sebuah kebodohan berlarut
dalam kesedihan. Padahal kesedihan itu tak pernah membawa manfaat apapun
bagi dirinya. Andai kesedihan & trauma itu bisa menghasilkan
tambahan gaji, bolehlah antri untuk sedih & trauma.
"Hidup terlalu indah untuk dihabiskan dalam kesedihan tak berujung.." begitu
kata Udin kepada Kasrun beberapa minggu lalu. Kasrun hanya cengengesan
mendengar Udin berkata itu. Dia ingat beberapa waktu lalu setelah batal
nikah, Udin persis aktor film India sedang patah hati. Sayangnya tak ada
pohon dan musik. Andai ada, pasti dia nyanyi dan berjoget.
September 2014
"Jodoh itu persis seperti rezeki yang disediakan Allah untuk
kehidupan manusia. Benar-benar sebuah kepastian. Setiap orang memiliki
jodohnya masing-masing. Tak mungkin tertukar. Jika tak berjodoh dengan
seseorang, maka jodohnya pasti yang lain." masih terngiang di
telinga Udin kata-kata dari ustadz yang tadi mengisi pengajian di
masjid. Keyakinannya akan jodoh semakin kuat. Bahwa, mustahil seseorang
tak mendapatkan jodohnya. Kebanyakan orang yang kesulitan menemukan
jodohnya, disebabkan dirinya sendiri. Ia sangat yakin akan bertemu
jodohnya. Entah kapan. Entah dengan siapa. Ia memasrahkan sepenuhnya
kepada Dzat yang maha menggenggam jiwa manusia.
Udin berjalan ke arah tempat parkir sepeda motor. Sesampainya disana,
rupanya ia masih harus menunggu motor lainnya keluar. Karena motor Udin
terhalangi motor lainnya.
Brukk!
Udin kaget. Sebuah motor yang sedang mundur menabrak motornya.
"Eh maaf mas..maaf banget...saya nggak sengaja. Kirain tadi nggak akan kena.."
"iya mbak gpp..santai aja" jawab Udin.
"Ada apa Lyr...?" Tanya seorang wanita lain yang baru datang.
" ini tadi aku mundurin motor, tapi nggak sengaja nabrak motornya mas ini.." jelasnya
" Loh..Udin!"
" Eh, Fitri?!"
" Wah nggak nyangka ketemu disini! Apa kabar?"
" Baik Fit Alhamdulillah...udah lama ya nggak ketemu.." Jawab Udin
" Iya udah lama banget nggak ketemu. Oiya kenalin, ini sepupu aku, Lyrra." Fitri
memperkenalkan sepupunya. Yang diperkenalkan mengangguk & tersenyum
ke Udin. Udin membalas senyuman & anggukan kepalanya.
Tak lama mereka ada di tempat parkir itu. Setelah basa-basi, Udin & Fitri bertukar nomor kontak, lalu mereka pun berpisah.
November 2014
Udin sedang asyik menekuri mushaf kecilnya. Baginya,
ayat-ayat Al Quran adalah obat segala kegelisahan jiwa. Kelak, ia ingin
membangun keluarga yang akrab dengan Al Qur'an. Dan ia bertekad, semua
harus bermula dari dirinya. Jika ia ingin anak-anaknya akrab dengan Al
Qur'an, maka anak-anaknya harus memiliki ayah & ibu yang juga akrab
dengan Al Quran. Artinya, ia harus memilih istri yang akrab dengan Al
Quran. Seseorang yang akrab dengan Al Quran, hanya pantas bersanding
dengan yang akrab dengan Al Quran pula. Begitu logika di pikiran Udin.
Udin baru saja berhenti di Ayat ke 20 surat At Taubah, ketika seseorang mengirim Ping!!! di handphone-nya.
" Aku punya berita baik untukmu..." begitu bunyi pesannya. Dari Kasrun.
" Berita apaan? "
" Urusan pernikahan. Tapi aku mau memastikan, kau benar-benar sudah siap melangkah lagi? "
" InsyaAllah sudah siap...ada apa sih memangnya?"
" Yakin? "
" Iyaaa.. yakin!"
" Siap dengan apapun kemungkinan yang akan terjadi? "
" Iya aku siap."
" Meski lebih menyakitkan daripada sebelumnya?"
" Iya, iya.. udah deh..ngomong aja langsung. Kau punya berita apa sebenarnya?" Udin penasaran
" Begini, istriku punya seorang teman. Cantik, cerdas &
insyaAllah shalihah. Dia sudah siap menikah. Dia menyampaikan pada adik
iparku agar aku membantu mencarikan jodoh untuknya. Aku juga nggak
ngerti kenapa aku yang diminta membantunya. Ya sudah, aku langsung
teringat kamu..."
" Ceritakan sedikitlah tentangnya..." Udin makin penasaran
" Dulu dia kuliah di Farmasi UE. Sekarang bekerja di perusahaan Jepang. Anak kedua dari 3 bersaudara.."
" Namanya ? " tanya Udin
Lama pesannya tak dibalas. Huruf di layar handphone-nya masih "D". Belum terbaca. 5 menit berlalu, belum ada balasan juga dari Kasrun. 10 menit kemudian baru ada balasan..
"Namanya Zetilyrra Sofia..Panggilannya Lyrra. Kau pernah mendengar namanya di ceritaku sebagai Intan..."
Degg! Huruf-huruf terakhir yang merangkai sebuah nama itu tiba-tiba
membuat jantungnya berdegup lebih keras. Pikirannya melayang pada sosok
yang menabrak motornya disebuah tempat parkir beberapa bulan lalu. Sosok
yang juga pernah diceritakan sahabatnya beberapa bulan lalu.

085668801051
273BAC01

Post a Comment